Saat Pesantren Yatim Terpaksa Memulangkan Santrinya

Ada keputusan yang tidak pernah ingin diambil pengurus pesantren yatim mana pun: meminta anak-anak pulang. Yayasan Lima Menara di Bandung pernah sampai di titik itu.
Selama bertahun-tahun, pesantren yatim dan dhuafa di Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, ini mendidik dan mengasuh anak-anak tanpa memungut biaya sepeser pun. Ketika jumlah donatur terus berkurang, pengurus tidak lagi sanggup menjamin makan, tempat tidur, dan kebutuhan sekolah para santri. Santri pun dipulangkan untuk sementara.
Pintu Ditutup, Warga Tetap Bertanya
Kegiatan pesantren berhenti, tetapi pertanyaan dari warga tidak. Masih ada orang tua yang datang menanyakan kapan anak mereka bisa kembali belajar dan diasuh di Lima Menara.
Pengurus ingin membuka kembali pintunya. Masalahnya, banyak kebutuhan dasar belum terpenuhi. Kasur yang dipakai santri sudah tidak layak, perlengkapan sekolah kurang, dan beras serta telur harus terus dibeli setiap hari. Sejumlah sarana yayasan juga masih perlu diperbaiki.
Setiap anak berhak punya tempat untuk belajar, beristirahat dengan layak, dan makan dengan cukup. Bagi anak yatim dan dhuafa, hal sesederhana itu bisa hilang begitu saja ketika lembaga yang menaungi mereka kehabisan biaya. Itulah yang dialami santri Lima Menara.
Tas, Sepatu, Kasur, Beras, dan Telur
Pada 7 Agustus 2026, LAZ Darul Hikam datang ke Yayasan Lima Menara membawa bantuan dari dua program sekaligus.
Melalui Program Bantuan Pendidikan, LAZ Darul Hikam menyalurkan tas dan sepatu untuk menunjang kegiatan belajar santri. Melalui Program Sedekah Subuh, pesantren yatim ini menerima kasur, beras, dan telur untuk kebutuhan tidur dan makan sehari-hari.
Bantuan yang disalurkan meliputi tas, sepatu, kasur, beras, dan telur untuk santri dan pengurus.
Arti Sepasang Sepatu bagi Santri Yatim
Bagi sebagian orang, tas dan sepatu adalah barang biasa. Bagi santri yatim, keduanya berarti bisa berangkat sekolah dengan perlengkapan yang pantas. Kasur baru berarti istirahat yang lebih layak setelah seharian belajar dan mengaji. Beras dan telur membuat pengurus sedikit lebih lega soal biaya dapur.
Pengurus yayasan menyebut bantuan ini datang saat mereka sedang berusaha bangkit. Bagi mereka, bantuan tersebut menjadi tanda bahwa perjuangan mengasuh anak yatim dan dhuafa masih diperhatikan banyak orang.
Kabar ini juga penting bagi warga sekitar yang menitipkan harapan pada Lima Menara. Selama pesantren yatim ini bisa kembali berjalan, anak-anak mereka punya tempat untuk belajar mengaji, bersekolah, dan diasuh tanpa harus memikirkan biaya.
Langkah Pertama untuk Bangkit
Bantuan tahap pertama ini belum menyelesaikan semua persoalan Lima Menara. Biaya operasional tetap berjalan, dan sarana yayasan masih perlu dibenahi. Namun bagi pengurus, bantuan ini menjadi pijakan untuk kembali menjalankan pendidikan dan pengasuhan bagi anak-anak yang menunggu.
LAZ Darul Hikam berharap dukungan ini ikut menjaga keberlangsungan pesantren yatim seperti Lima Menara, agar tidak ada lagi anak yang harus pulang karena tempat belajarnya kehabisan biaya.
Ikut Bantu Lima Menara Bangkit
Masih ada pesantren yatim dan dhuafa yang bertahan dengan donasi seadanya. Mari ambil bagian agar Lima Menara dan pesantren yatim lainnya bisa terus mendidik dan mengasuh anak-anak tanpa biaya. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan kami salurkan dengan amanah.
Salurkan donasi terbaik Anda melalui:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rekening: 7728-528-577
a.n. LAZIS DARUL HIKAM

